Puja Saha Sesontengan
Oleh : I PUTU ARYA SURYAWAN, S.Fil., M.Pd.
Tahun : 2024
AGEM-AGEMAN MANGKU SONTENG
"Puja pali-pali kretti dharmma, aji puja deha, aranira waneh, maka gaglaranira angonteng, sahangaran,"
Puja pala pali adalah bagian dari dharma, atau sebuah kewajiban, yaitu sebuah doa yang sederhana untuk melakukan pemujaan, namanya atau doa yang dipanjatkan tidak terasa asing atau mudah dipahami, sebagai pedoman yang dilakukan sebagai ageman nyonteng atau mangku sonteng,
"anabuhakna tngeran alambe, aghenta sasiwak, umiring maring sor, dadya swaranya tabuh pisan, Neng, Neng, Neng",
Menyuarakan sebuah genta dengan ciri satu ketukan, menggunakan genta hanya sebagian atau satu sisi saja, dengan memiringkan pada bagian bawah genta, menjadi suaranya dengan nada satu ketukan, dengan suara neng-neng-neng,
"mangkana salawasnya anyonteng, aywa ngiwangi, aywa mamadha-madha, ring bhawa laksana, ulahira sang brahma pandhita, margga nira amuja-muja ngloka parasraya, apan sang pandhita makanggeh sang guru yogiswara dening sang para loka kramma, maka purohitaning jagat,"
Demikianlah hendaknya dilakukan selamanya, janganlah menyalahkan atau jangan sampai keliru memahami, dan jangan menyamai, jangan juga melakukan hal yang sama, menyerupai apa yang dilakukan oleh Brahmana Pandita atau Wiku, sebagaimana Sang Wiku melakukan puja-puja atau melakukan pelayanan, karena Sang Wiku adalah seorang guru yang mengajarkan ajaran yoga kepada masyarakat, dan Wiku juga memiliki kedudukan yang mulia,
" kalinganya, ya sira arep angaduga magaman, wnang awinten gama tirtha sira rumuhun, mresihan agama ring raga sariranta, wnang adadaha dharmma, pawintenan gama tirtha, ring sang brahmana para pandhita, maka amrestitaning raga sasira,"
Maka dari itu, bagi siapa saja yang hendak mempelajari atau mengisi diri tentang ajaran agama, hendaknya melakukan pawintenan atau penyucian diri terlebih dahulu dengan memahami apa yang dimaksud dengan gama tirta, gama tirta dapat dipelajari atau didapatkan dari Ida Sang Wiku atau Brahmana Pandita, dengan ajaran tersebut dapat menyucikan diri.
"yan sira praya anyonteng, glari puja deha, asa-asa akunang, apningan sira rumuhun, anyuci laksanna anda tirtha pabresihan, ring sang sdaka, siwa tuwi bhuddha, asasalin wastra lan kampuh, sarrwa putih,"
Jika anda atau siapa saja hendak melakukan nyonteng atau menjalankan sebagai Mangku Sonteng, melakukan doa dengan seha atau bahasa yang sederhana, hendaknya melakukan beberapa tahapan, melakukan konsentrasi atau memfokuskan fikiran, menyucikan diri dengan tirta pabersihan, yang sebelumnya telah dimohonkan kepada Sang Wiku atau Sulinggih, baik Sulinggih Siwa maupun Budha, memakai busana dan pakaian serba putih,
" asmupne drupanya, hning tan kapinggingan, satkanta ring unggwan amuja sonteng, maha leprupanta, asila desa pned, ngarepin sopakaranya, lwirnya, toya panglukatan, pabresihan, sakeng sang sdaka, sira sang sinuwun, ika sasuwunan, nga. apan sira juga wnang mrasiddha kna ikang sarwwa pinuja, mwah ngaepan skar mwang asep menyan astanggi, wepawitra winadahan paruk anyar, anggen pamretista sopokaraning babanten,
Sebagai seorang Mangku Sonteng, di depannya ada dupa yang menyala atau pasepan dengan asap, suasana ketika mulai nganteb dibuat hening, sebagai sebuah persyaratan pemujaan seorang Mangku Sonteng adalah keheningan, diawali dengan duduk bersila dengan badan yang tegap, di depannya terdapat sarana seperti tirta pengelukatan, tirta pabersihan, yang keduanya didapatkan dengan cara memohon kepada Ida Sang Sulinggih, karena beliau Sang Sulinggih sebagai pemberi kewenangan atau sebagai Dewa Sekala. Beliau Sang Sulinggih juga berwenang menyucikan segala bentuk upakara atau bebantenan serta mengesahkan sebuah pemujaan yang dilakukan oleh Mangku Sonteng, juga di depan Mangku Sonteng tersedia bunga serta asep atau dupa yang wangi, atau pasepan yang diisi menyan, juga tersedia air bersih dengan tempat yang dibuah dari kuali (payuk) yang baru atau bersih, yang air tersebut akan digunakan untuk sarana penyucian segala jenis upakara atau bebantenan. Hal tersebut diatas sebagai sebuah perlengkapan yang mutlak ada ketika Mangku Sonteng melakukan nganteb.
"Riwus jangkep, sapakaranya kabeh, glarakna sapari krammanta amantra amusti angrelesika, idhepta tan hana kaletuhan, hning galang kadi gaganna tanpa megga, ngastiti panugrahan bhatara siwa rumuhun, unggwahakna ring awakta, amantra rumngeku mnyep, ring ngati,"
Setelah lengkap segala jenis kelengkapan nganteb dane Mangku Sonteng, mulailah mengucapkan mantra yang diawali dengan menyucikan diri, dengan cara memusatkan fikiran sehingga suci tanpa ada memikirkan hal yang lainnya, menjadi fikiran yang hening dan terang bagaikan langit tanpa awan, diawali dengan memohon anugrah dari Bhatara Siwa, yang diturunkan (ngalinggihang Siwa) ke dalam diri dane Mangku Sonteng, sehingga menyatukan Siwa dalam diri dane Mangku Sonteng, mantra tersebut diucapkan dalam hati, dan tidak bersuara.